- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Sebelum terjun langsung ke lapangan untuk bekerja, aku mengikuti pelatihan dasar bahasa Jepang yang telah disediakan pemerintah (bagian dari program ini) selama 6 bulan di Jakarta (pelatihan ini gratis bahkan mendapatkan uang saku setiap bulannya). Namun, pelatihan ini harus berakhir lebih cepat di bulan keempat karena kami dipulangkan akibat merebaknya pandemi COVID-19, yang saat itu pertama kali ditemukan di daerah tempat kami mendapat pelatihan.
Karena situasi pandemi yang tak kunjung membaik, keberangkatan kami ke Jepang yang semula dijadwalkan pada bulan Juni akhirnya ditunda hingga bulan Desember. Memang, pandemi ini membuat segalanya jadi tertunda.
*Nb : tidak ada biaya pesawat atau biaya mengurus visa dan lain-lain
Setibanya di Jepang pada bulan Desember 2020, kami kembali menjalani pelatihan bahasa Jepang selama 6 bulan di wilayah Kansai (*Ini juga gratis), setelah menjalani karantina selama 2 minggu.
Setelah pelatihan selesai (Juni 2021), kami dijemput oleh masing-masing penanggung jawab dari rumah sakit tempat kami akan bekerja, dan secara resmi memulai pekerjaan kami di sana sebagai calon perawat.
Sebagai calon perawat di Jepang, karena belum memiliki lisensi resmi perawat Jepang (menkyo kangoshi), kami tidak diperbolehkan melakukan tindakan invasif, seperti memasang infus, bahkan mengukur tanda-tanda vital pasien pun tidak diizinkan.
Pekerjaan kami saat itu terbatas pada tugas-tugas keperawatan dasar, seperti mengganti popok, membantu memindahkan posisi pasien di tempat tidur, membantu makan, dan pekerjaan pembantu perawat lainnya.
Dan tantangan sebenarnya baru dimulai ketika aku mulai mempersiapkan diri untuk ujian nasional perawat Jepang...
👉 Lanjut ke Part 3ーLast: Tahun Terberat dan Titik Balik

Comments
Post a Comment