- Get link
- X
- Other Apps
- Get link
- X
- Other Apps
Sejak kecil aku sudah suka banget dengan anime dan manga. Dari situlah muncul cita-cita yang sederhana: “Aku pengen ke Jepang suatu hari nanti.” Tapi saat itu aku belum tahu jalannya akan sejauh ini, sampai akhirnya sekarang aku benar-benar bisa bekerja sebagai Kangoshi (Perawat Medis) di Jepang.
Aku lulusan S1 Keperawatan dan Ners tahun 2016, dan langsung bekerja di salah satu RS Swasta di Bali, tepatnya di ruang ICU, selama 2,5 tahun. Setelah itu aku mulai les bahasa Jepang, yang awalnya cuma karena hobi. Tapi siapa sangka, jalan hidupku benar-benar berubah dari sana.
Awal Kenal Program EPA
Suatu hari, sensei ditempat les mengatakan bahwa ada program EPA G to G Jepang yang bisa membawaku ke Jepang sebagai perawat medis. Tapi katanya, seleksi dan tingkat kelulusan ujian menjadi perawat medis sangat rendah, dan biasanya hanya sedikit yang berhasil. Jujur, aku sempat ragu.
Namun semangatku gak padam. Aku mulai serius mempelajari bahasa Jepang yang semula belajar hanya untuk mengetahui percakapan dasar menjadi giat mempelajari huruf hiragana dan katakana. Walaupun saat itu hanya bisa mengikuti les seminggu 2 kali (1,5 jam tiap pertemuan) karena aku sambil bekerja di RS.
Di bulan Februari 2020, aku baru tahu bahwa untuk mendaftar program EPA, minimal harus lulus N5. Sedangkan batas akhir pendaftaran adalah 31 Mei 2020. Oleh karena itu, aku ngebut belajar dan syukurnya aku berhasil lulus N5 di ujian NatTest pada bulan April !
Tapi tantangannya belum selesai. Aku masih ingat sekali, aku baru bisa mendaftar program EPA di hari-hari terakhir masa pendaftaran. Salah satu syaratnya adalah memiliki pengalaman kerja di rumah sakit minimal dua tahun setelah STR terbit, sedangkan aku baru memenuhi syarat itu di akhir bulan—bertepatan dengan batas akhir pengumpulan berkas. Rasanya benar-benar deg-degan.
*Buat kamu yang juga pengen tau informasi tentang program ini dan syarat-syaratnya, bisa cek website nya di sini Program G to G Jepang.
Saat itu, sejauh yang aku tahu, belum banyak program atau LPK yang membuka kesempatan untuk menjadi kangoshi (perawat medis) di Jepang. Sebaliknya, peluang untuk menjadi kaigo (perawat lansia) justru lebih banyak tersedia. Apalagi, program yang aku ikuti ini merupakan hasil kerja sama antar pemerintah (G to G), sehingga jauh lebih aman dan biayanya pun lebih terjangkau. Jadi aku tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini.
Total pengeluaran pribadiku saat itu kurang lebih sekitar 10 juta rupiah. Biaya itu mencakup tiket pesawat untuk mengikuti tes tulis di Lombok (karena aku dari Bali), tiket pesawat untuk mengikuti tes wawancara di Jakarta, biaya penginapan selama proses tes, biaya persiapan berkas pendaftaran, dan biaya tes kesehatan — yang nantinya dikembalikan setelah dinyatakan lolos program ini.
Proses Seleksi dan Perjalanan ke Jepang
Aku ikut tes tulis di Lombok, lalu tes wawancara dan pemeriksaan kesehatan di Jakarta. Bersyukur banget, semua proses itu bisa aku lalui dengan baik dan aku diterima.
Yang lebih mengejutkan, aku lolos di rumah sakit impian banyak peserta lain, yaitu sebuah rumah sakit di pinggiran ibu kota Tokyo yang dimana perusahaan dari RS ini terkenal banyak meluluskan kangoshi setiap tahunnya. Rumah sakit ini hanya membuka 3 kuota (3 orang), sehingga persaingannya ketat banget. Tapi entah kenapa, aku termasuk yang terpilih. Mungkin ini benar-benar jalan yang sudah Tuhan tunjukkan.
Alasan rumah sakit ini jadi incaran banyak orang adalah karena mereka biasanya menyediakan kelas intensif selama setahun untuk persiapan ujian kokkashiken (ujian nasional perawat Jepang). Tapi… ternyata kenyataan tidak seindah harapan.
๐ Lanjut ke Part 2: Perjuangan Awal ditengah Pandemi
Comments
Post a Comment